Rabu, 17 Maret 2010

IDENTITAS DIRI

1. Pengertian Identitas diri
Identitas diri merupakan komponen yang membentuk konsep tentang diri pada seseorang, oleh karena itu, sebelum mendefinisikan identitas diri, maka saya akan memaparkan terlebih dahulu mengenai pengertian konsep diri.
Menurut Stuart (terjemahan Egi, Ramona, 2002 : 186) konsep diri didefinisikan sebagai semua pikiran, keyakinan, dan kepercayaan yang merupakan pengetahuan individu tentang dirinya dan memengaruhi hubungannya dengan orang lain. konsep diri tidak terbentuk waktu lahir, tetapi dipelajari sebagai hasil pengalaman unik seseorang dalam dirinya sendiri, dengan orang terdekat dan dengan realitas dunia.
Berdasarkan pengertian diatas konsep diri seseorang akan terbentuk didasari penilaian seseorang terhadap pengalaman dalam diri dan orang terdekat serta lingkungan tempat seseorang tinggal.
Selanjutnya mengenai komponen-komponen yang membentuk konsep diri adalah sebagai berikut.
a. Citra tubuh, yaitu kumpulan sikap individu yang disadari dan tidak disadari terhadap tubuhnya. Termasuk persepsiserta persaan masa lalu dan sekarang tentang ukuran, fungsi, penampilan, dan potensi. Citra tubuh dimodifikasikan secara berkesinambungan dengan persepsi dan pengalaman baru.
b. Ideal diri, yaitu persepsi individu tentang bagaimana dia seharusnya berprilaku berdasarkan standar, aspirasi, tujuan, atau nilai personal tertentu.
c. Harga diri, yaitu penilaian individu tentang nilai personal yang diperoleh dengan menganalisis seberapa sesuai perilakunya dengan ideal diri. Harga diri yang tinggi adalah perasaan yang berasal dari penerimaan diri sendiri tanpa syarat, walaupun melakukan kesalahan, kekalahan, dan kegagalan, tetap sebagai merasa sebagai seorang yang penting dan berharga.
d. Performa peran, yaitu serangkaian pola prilaku yang diharapkan oleh lingkungan sosial berhubungan dengan fungsi individu diberbagai kelompok sosial. Peran yang ditetapkan adalah peran peran yang dijalani dan seseorang tidak mempunyai pilihan. Peran yang diambil adalah peran yang terpilih atau dipilih oleh individu.
e. identitas diri, yaitu prinsip pengorganisasian kepribadian yang bertanggung jawab terhadap kesatuan, kesinambungan, konsistensi dan keunikan individu. Prinsip tersebut sama artinya dengan otonomi yang mencakup persepsi seksualitas seseorang. Pembentukan identitas dimulai pada masa bayi dan terus berlangsung sepanjang kehidupan, tetapi merupakan tugas utama pada masa remaja.
Soedarsono (1999: 59), mendefinisikan identitas diri dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai sesuatu yang tercermin dari penampilan sistem nilai (value system), sikap pandang (attitude), dan perilaku (behaviour) yang ia miliki secara menyeluruh dan terpadu (holistic). Berbagai unsur berikut ini kiranya dapat dipertimbangkan sebagai landasan jati diri, yang dicoba digali dari kehidupan nyata dalam upanya memelihara nilai-nilai intrinsic kehidupan berbangsa dan bernegara.
a. Refleksi hati nurani.
b. Keramahan yang tulus dan santun.
c. Kebersamaan, keuletan dan ketangguhan.
d. Ketakwaan kepada Tuhan.
e. Kecerdasan yang arif .
f. Harga diri.
2. Indikator Identitas diri
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, indikator adalah sesuatu yang menjadikan. Dalam hal ini yang dimaksud dengan indikator identitas diri ialah segala sesuatu hal yang menjadikan seseorang memiliki prinsip pengorganisasian kepribadian yang bertanggung jawab terhadap kesatuan, kesinambungan, konsistensi dan keunikan pribadinya.
Bila direnungkan, istilah pribadi berarti sendiri, mandiri. Maksudnya karena memiliki akal budi, manusia tahu apa yang ia lakukan, dan mengapa ia melakukannya. Manusia itu pribadi, artinya ia mandiri dalam menunjukan kehendaknya, dalam menentukan sendiri setiap perbuatannya. Sebagai pribadi, manusia bukanlah benda mati, artinya ia mampu berdaya, dan berkekuatan. Berkat kemampuan, daya, dan kekuatannya, manusia selalu dan tak akan pernah berhenti berkembang, terutama mengenmbangkan berbagai kebutuhannya.
Berkaitan dengan hal ini, Abraham Maslow (dalam Soedarsono, 1999:13) mengemukakan dalam salah satu teorinya menyebut tentang hierarki kebutuhan, yaitu kebutuhan fisik, kebutuhan rasa aman, kebutuhan menjadi anggota kelompok, kebutuhan ego, serta kebutuhan untuk beraktualisasi.
Dalam keinginannya untuk mengaktualisasikan diri secara terus menerus, manusia acap dihanyutkan oleh realitas sekitarnya. Kecenderungan manusia untuk berubah dalam kenyataannya merupakan suatu proses untuk menjadi yang lain; suatu proses pembentukan kepribadian. Pada dasarnya pembentukan kepribadian adalah adalah suatu proses pembentukan diri, suatu proses yang tak akan pernah berakhir. Seseorang yang berkeinginan menampilkan identitas pribadi yang baru biasanya akan meninggalkan kebiasaan masa lalunya, kemudian tampil dengan sikap dan prilaku yang berbeda, bahkan secara sadar atau tidak-demi perbedaan yang diinginkan-ia tidak akan malu-malu memanipulasi diri. Dengan demikian proses pembentukan diri merupakan suatu proses yang melibatkan manusia secara keseluruhan dalam rentang sejarah kehidupan pribadinya, yang merupakan rangkaian dari kegiatan masa lalu maupun masa depannya. Namun manusia bukan hanya terbentuk secara fasif oleh pengalamannya, melainkan juga menjadi subjek yang mengolah pengalaman, bahkan memilih untuk mendapatkan pengalaman tertentu.
Sebagai makhluk sosial, manusia terpanggil untuk mengembangkan diri, mengadakan dialog terus menerus dengan dirinya sendiri, dan saling berinteraksi dalam menggapai berbagai realitas. Sebagai subjek, manusia berupaya mengukuhkan diri sebagai tahapan pengembangan diri untuk menampilkan suatu bentuk kepribadian. Sebagai pribadi, manusia merupakan totalitas yang mantap dan harmonis.
Selanjutanya Soedarsono (1999 :22) memberikan ciri kepribadian seseorang yang memiliki identitas diri, yaitu orang yang mampu mengendalikan dorongan emosinya, pandai membaca perasaan orang lain, dan bisa memelihara hubungan baik dengan lingkungannya melalui pengenalan diri sendiri secara lebih mendalam. Sebagai makhluk sosial , akan lebih baik lagi bila seseorang memiliki sejumlah kemampuan yang merupakan komponen dasar dari kecerdasan antar pribadi.
Kemampuan yang dimaksud adalah sebagai berikut:
- Kemampuan menjalin hubungan pribadi: keterampilan untuk masuk dalam lingkup pergaulan, termasuk didalamnya keterampilan dalam mengenal dan merespons secara tepat perasaan ataupun keprihatinan orang lain.
- Kemampuan dalam membuat analisis sosial: keterampilan dalam menditeksi dan memahami perasaan orang lain.
- Kemampuan mengorganisir kelompok: keterampilan esensial bagi seorang pemimpin, menyangkut tindakan mengambil prakarsa dan mengkordinasikan upaya menggerakan kelompok.
- Kemampuan merundingkan pemecahan: keterampilan khusuyang dimiliki oleh seorang mediator, yaitu mencegah atau menyelesaikan konflik, mengupayakan kesepakatan, dan mengatasi atau menengahi selisih pendapat.
Disamping semua upaya dan kemampuan tersebut, hasil yang dicapai kiranya akan lebih baik lagi bila memiliki Iman dan Takwa kepada Tuhan.
Selain indikator diatas, Stuart ( Terjemahan Egi, Ramona, 2002 : 187-191) mengemukakan bahwa identitas diri sesorang terbentuk pada diri seseorang apabila memiliki konsep diri yang baik. Suatu konsep diri yang baik apabila memiliki kepribadian yang sehat. Individu dengan keribadian yang sehat akan mengalami hal-hal berikut ini:
a. Citra tubuh yang fositif dan sesuai.
b. Ideal diri yang realistis.
c. Konsep diri yang Positif.
d. Harga diri yang tinggi.
e. Peforma peran yang memuaskan.

Oleh: arif
artikelpopuler.com

1 komentar:

  1. Mau tanya itu bukunya dari mana ya??bisa minta daftar pustakanya?

    BalasHapus